Make a Better Idea of Global Citizenship

In this Globalization Era, many new ideas that come out from the intellectuals. One of that many new ideas is Global Citizenship. Global citizenship can be define by two words, “Global” and “Citizenship”. According to Wikipedia, The term “Citizenship” refers to an identity between a person and a city, state or nation and their right to work, live and participate politically in a particular geographic area. When combined with the term “Global” which According to Merriam Webster online dictionary is a term refers to involving the entire world. So we can conclude that Global Citizenship is an idea that transcends geography or political borders between humans in this world.

All ideas have pro and cons, but I basically disagree with this idea. But however, the process of Global Citizenship had already started with Globalization was materialized.

The idea of Global Citizenship suggest that humans in this world has no border to each other—which is what Globalization offers in this era. Because of Globalization, we can communicate and get information easier than when it was in previous eras. In this era, we can get information from another nation across the sea and continent just with a blink of eyes. So do communication. We can know how well are another nation’s condition, and we can do something if it’s bad. Just like there isn’t any border between us. Get the point?

I disagree with this idea because although Global Citizenship has a good point –in humanity and a sense of concern by people- Global Citizenship has a bad point and it’s very important point.

It’s about the identity of a nation.

Every nation has their own unique that can’t be bother by anything. But well, it’s in the past. So maybe I have to talk it with past tense—that every nation had their own unique that couldn’t be bother by anything. It sounds better.

Global Citizenship offers something that would blur the identity –the local unique- and Globalization is one of ways that will make it true. With Globalization, All information about another nation’s culture will enter our nation. And most of teenagers in our nation take that information without any filters. So what will happen? Our culture will be being forgotten.

That’s reality what happens in our nation today. Teenagers thinks that another nation’s culture is a way better than ours. So they eventually don’t concern about their own nation culture.

Our local wisdom, local unique will disappear and be forgotten.

And by disagree about Global Citizenship doesn’t mean I despise it. Idea about Global Citizenship is so beautiful. Can you imagine that human concern about the others because we don’t have any border? It do sounds beautiful. Respect about other human being is what this generation lacks of. So, this idea gives us hopes of humanity.

So can we make this idea better?

Global Citizenship will be better if we still rooted in our local wisdom, our local culture and our local unique, but we globally respect each other as the same human being.

We can do this because as a college student, we are the agent of change. Are you ready?

Peran Mahasiswa di Era Globalisasi

jeng4

Secara umum, pengertian Globalisasi adalah suatu proses yang mendunia dimana individu tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah. (artikelsiana, n.d.). Globalisasi berasal dari bahasa inggris yaitu Globalization. Kata “Global” berarti mendunia sedangkan “Lization” berarti proses. Sehingga pengertian Globalisasi secara bahasa adalah suatu proses yang mendunia. (artikelsiana, n.d). Dapat dipahami bahwa Globalisasi adalah sebuah proses yang dimana di dalamnya terdapat pengaruh dari kemajuan ilmu pengetahuan dalam beberapa bidang, seperti teknologi informasi dan teknologi transportasi

Tentunya, era globalisasi ini sangat membawa banyak keuntungan yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Zaman dahulu untuk berpergian dari Jakarta ke Yogyakarta dapat memakan waktu yang sangat banyak dan tentu tidak mengandung nilai efisiensi. Tapi dengan adanya pesawat sebagai salah satu kemajuan di dalam bidang transportasi, jarak Jakarta dan Yogyakarta seakan tidak ada.

Contoh lainnya dalam bidang teknologi informasi adalah internet. Sekarang, internet sangatlah mudah diakses. Ini berdampak langsung dengan kemudahan mendapatkan informasi. Dulu, mahasiswa harus mencari referensi di perpustakaan untuk bahan jurnalnya. Tapi sekarang banyak sekali website-website yang menyediakan informasi yang bahkan lebih lengkap daripada sebuah buku atau merujuk sebuah buku.

Era Globalisasi bukan hanya ‘menawarkan’ keuntungan semata, tapi juga berbagai rintangan yang jika tidak dihadapi dengan baik dapat menjadi ‘bumerang’. Contohnya adalah penyalahgunaan informasi yang tak terkendali. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya plagiarisme atau bahkan yang lebih buruk yaitu pencemaran nama baik.

Sehingga kini timbul pertanyaan apakah tindakan yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menghadapi berbagai rintangan yang disuguhkan oleh era Globalisasi?

Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. (Purnama, 2008)

Mahasiswa juga memiliki berbagai peran, yaitu:

  1. Mahasiswa sebagai “Iron Stock” yang berarti manusia-manusia tangguh harapan masyarakat.
  2. Mahasiswa sebagai “Guardian of Value” yang berarti penjaga nilai-nilai di masyarakat.
  3. Mahasiswa sebagai “Agent of Change” yang berarti agen perubahan.

(Purnama, 2008)

Sehingga peranan mahasiswa dalam menghadapi era Globalisasi sangatlah banyak dan penting. Jati diri Universitas Gadjah Mada yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Majelis Wali Amanah (MWA) UGM Nomor 19/SK/MWA/2006 semakin menguatkan peran mahasiswa dalam menghadapi rintangan dalam era Globalisasi, khususnya mahasiswa UGM.

Salah satu rintangan yang akan timbul pada era Globalisasi adalah kaburnya batas-batas antarnegara, yang akan mengakibatkan banyak masalah, salah satunya adalah masuknya pengaruh budaya atau negara asing dan menekan budaya Indonesia sendiri atau yang lebih buruk akan memecah belah negara Indonesia.

Universitas Gadjah Mada adalah Universitas Nasional, Perjuangan, dan Pancasila. Yang dimana Universitas Gadjah Mada akan mempertahankan dan mengembangkan kesatuan dan persatuan bangsa, akan selalu berjuang mempertahankan dan mengisi NKRI berdasarkan Pancasila dengan melaksanakan UUD 1945 secara demokrais yang berkepribadian Indonesia, dan selalu menetapkan pendirian dan pandangan hidupnya berdasarkan Pancasila. Ditambah lagi, Universitas Gadjah Mada adalah Universitas Pusat Kebudayaan, yaitu tempat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia. (Zaenudin n.d., 24-25)

Jati diri UGM ini sangat selaras dengan peran mahasiswa sebagai “Guardian of Value” yang menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat, khususnya pancasila. Sehingga idealnya, mahasiswa UGM dapat menjaga nilai-nilai, budaya, dan kesatuan negara Indonesia ini.

Ditambah lagi dengan tujuan UGM yaitu menjadikan UGM sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan reputasi internasional. Tujuan ini selaras dengan visi UGM yaitu Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya bangsa berdasarkan Pancasila dengan Misi yaitu Menjalankan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta pelestarian ilmu yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat.

Tujuan, visi, dan misi ini sangatlah berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai “Agent of Change” dan “Iron Stock”. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada idealnya bukan hanya akan tangguh menghadapi rintangan dan problematika di dalam masyarakat yang disebabkan oleh globalisasi, tapi juga dapat memanfaatkan globalisasi sebagai ‘batu loncatan’ untuk membuktikan kepada rancah dunia bahwa Indonesia dapat berubah dan tumbuh menjadi lebih baik dibuktikan oleh mahasiswanya sebagai agen perubahan.

Mahasiswa UGM idealnya menghayati nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Rencana Strategis 2012-2017, yaitu nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai keilmuan, dan nilai-nilai kebudayaan dalam menghadapi era Globalisasi, sehingga tidak melupakan dirinya sebagai putra dan putri harapan Indonesia dari Universitas kerakyatan.

Sehingga Mahasiswa UGM yang ideal dalam era Globalisasi adalah Mahasiswa yang dapat menjaga nilai-nilai, budaya, dan kesatuan Indonesia, Mahasiswa yang tangguh menghadapi rintangan-rintangan dan problematika masyarakat, Mahasiswa yang dapat mengharumkan nama Indonesia di rancah dunia, dan Mahasiswa yang menghayati nilai-nilai dasar Universitas Gadjah Mada.

Terdapat alasan mengapa tersemat kata “Maha” pada “Mahasiswa” – Ihkam Aufar Zuhairi, FEB UI 2013.

Referensi:

“Pengertian, Penyebab, Dampak Globalisasi” n.d. Artikelsiana http://www.artikelsiana.com/2015/01/pengertian-globalisasi-penyebab-dampak-globalisasi.html

Purnama, Geowana Yuka. 2008. “PERAN FUNGSI DAN POSISI MAHASISWA”    wordpress (blog), Agustus 10. (5:28 pm), https://geowana.wordpress.com/2008/08/10/peran-fungsi-posisi-mahasiswa/

Zaenudin. n.d. “MENELUSURI JATI DIRI UNIVERSITAS GADJAH MADA DALAM LEMBARAN ARSIP” Telisik, 24-25. url: https://drive.google.com/drive/folders/0B15DUBtgDFwZaXBVZ21rNzhkbm8